Kali ini saya mau sedikit membahas mengenai menyusui dan perjuangannya. Bukan apa-apa siy, cuma barusan aja kepikiran tentang betapa memberikan ASI secara eksklusif kepada sang buah hati itu sangat butuh perjuangan.
Mungkin kita semua tau ya bahwa tubuh seorang wanita dirancang sedemikian rupa oleh Sang Pencipta untuk mampu memberikan makanan untuk anaknya -dalam hal ini bayi- melalui tubuhnya. Bukan hanya manusia tapi juga hewan. Dengan adanya bagian pada wanita ini, kita diberikan kemudahan untuk memberikan makanan pada anak-anak kita yang baru lahir ke dunia. Praktis, murah dan bebas kontaminasi.
Sekilas kalau kita mendengan kata menyusui bayi, akan terdengan gampang. Tapi pada prakteknya, yang sudah daya alami sendiri, ternyata menyusui perlu perjuangan dan tekat yang kuat dan mendalam. Dalam hal ini saya dari awal sudah bertekat memberikan ASI secara eksklusif kepada anak saya, yang mana itu adalah hak anak kita dan alhamdulillah sampai sekarang anak saya masih mendapat haknya tersebut. Yang membuat saya sedih adalah mendengar seseorang dengan gampangnya mengatakan “ASIku ga banyak” atau “anaknya ga mau mimik” atau ada juga yang mengatakan “halah, menyusui kan cukup 3 bulan”. Sedih saya mendengar beberapa ungkapan tersebut.
Berdasarkan pengalaman saya, memang tidak mudah memperjuangkan hak anak kita. tapi ya itu, kembali lagi ke masalah tekat dan usaha. Sejak awal melahirkan, saya berusaha keras memberikan ASI meskipun ASI baru keluar pada saat bayi saya berumur 4 hari. Tapi itu tidak menyurutkan niat saya memberikan ASI eksklusif kepada bayi saya. Saat masuk kerja, saya berusaha memompa ASI saya sesering mungkin. Dan malam hari saya berusaha memberikan ASI langsung kepada anak saya. Hal-hal tersebut tentu saja dapat saya lakukan atas dukungan lingkungan saya yang kebetulan semuanya mendukung saya membeikan ASI eksklusif.
Sedikit pengetahuan yang saya dapatkan, bahwa produksi ASI ini tergantung kebutuhan bayi, dan mengikuti kebutuhan bayi. Dan prinsip produksi ASI adalah semakin banyak dikeluarkan, akan semakin banyak dia berproduksi. Tentu makin sering kita pompa -saat tidak dimimik bayi- maka produksi ASI kita juga akan semakin banyak. Namun produksi ASI ini akan terhambat kalau hati dan pikiran kita tidak tenang, alias stres, gelisah, khawatir. Semakin kita stress, semakin sedikit produksi ASI kita. Nah ini yang harus kita -sebagai ibu- jaga dengan baik. Intinya adalah management pikiran. Disaat kita berfikir bahwa ASI kita sedikit, maka yang keluar akan sedikit, begitupun sebaliknya.
Mungkin tidak mudah, dan memang tidak mudah, tapi kita sebagai seorang Ibu, tentu harus dapat mengatasinya.
So, free your mind, be positive, and don’t get too stress and you’ll get what you’re expected
Well, mungkin itu dulu sementara ini. Will edited soon when there’s another thought come to my mind
Happy breastfeeding moms